Edit Kadila, S.Pd

Saya bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata. Tapi saya ingin merangkai kata dalam hidup saya agar saya bisa lebih banyak berarti buat orang lain dengan ...

Selengkapnya
Navigasi Web
(Tantangan Menulis Hari Ke-71) Pesan Terakhir

(Tantangan Menulis Hari Ke-71) Pesan Terakhir

Mega adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Aku cukup dekat dengan keluarganya. Kebetulan Mega adalah sahabat baikku sejak di SMA dulu. Mega termasuk keluarga yang berada saat itu. Sejak ayahnya meninggal keluarga itu mulai jatuh miskin. Keberadaan keluarga Mega pun mulai ditinggalkan oleh saudara dari pihak ibunya yang kaya.

Mega pernah bercerita padaku, bahwa ia merasa sakit hati sekali dengan keluarganya yang dokter itu. Sejak saat itu ia bertekad akan menjadi seorang dokter. Kemauan yang kuat serta rasa balas dendamnya, akhirnya Mega bisa membuktikannya.

Setelah mendapatkan gelar itu, Mega ditugaskan ke luar daerah. Desa yang terpencil menjadi tempat pengabdiannya. Mega yang anak mamih ternyata bisa membuktikan bahwa ia bisa mandiri. Aku salut pada Mega.

Karena kesibukan kami masing-masing, akhirnya kami pun lose kontak. Aku pun akhirnya menikah tanpa kehadiran sahabat baikku itu. Tak lama aku mendengar berita Mega pun sudah menikah dengan orang sana. Dan kini mereka sudah mempunyai dua orang anak.

Enam bulan yang lalu aku mendengar berita bahwa Mega sudah pindah kembali ke kampung halamannya. Meg terpaksa pulang karena permintaan ibunya yang sering sakit-sakitan. Mega tak ingin terjadi sesuatu dengan ibunya. Ia ingin menjadi dokter sekaligus perawat bagi ibunya.

Apa yang direncanakan ternyata berbeda dengan takdir yang Allah berikan. Mega yang awalnya ingin merawat ibunya malah harus merawat pasien di rumah sakit yang terkena Covid 19. Mega sudah tidak pernah pulang ke rumah. Ia tak ingin keluarganya ikut terpapar virus yang mematikan itu. Ia hanya bisa berkomunikasi melalui video call saja sebagai pelepas rindu.

Mega yang setiap hari bergumul dengan pasien Covid, ternyata tak menyadari kalau dirinya sudah terpapar virus itu. Mega mulai merasakan badannya demam dan batuk-batuk. Tapi Mega masih terus bandel melayani pasien. Akhirnya Mega jatuh tersungkur karena rasa sesak yang sudah mendera di dadanya. Mega segera dilarikan ke ruang ICCU.

Dalam ruang ICCU, Mega merasakan seluruh tubuh menggigil kedinginan tapi dengan suhu badan yang tinggi. Bayangan malaikat maut serasa menjemputnya. Mega berkata dalam hati, "Wahai malaikat maut aku minta waktu padamu. Jangan kau ambil nyawaku sebelum aku menyampaikan pesan terakhir". Malaikat maut itu seakan mengerti dan memenuhi permintaan Mega.

Sebelum ajalnya Mega sempat melakukan video call dengan anaknya yang masih kecil-kecil. Sebelum melakukan itu, Mega menyingkarkan semua alat yang terpasang di tubuhnya. Ia tak ingin anak-anaknya tahu bahwa ia sedang sakit. Mega menyapa anak-anaknya sambil melambaikan tangannya. Tak lama Mega pun menyapa ibunya yang sedang terbaring. Mega berusaha tersenyum dalam sakitnya. Mega tak ingin ibunya menjadi sedih dengan apa yang dialaminya.

Mega pun kemudian menyapa suami tercintanya. Suami yang selama ini selalu mendukung kariernya hingga menjadi sukses. Suami yang selalu ada di saat ia membutuhkannya. Sambil setengah berbisik dia menitip pesan.

"Mas aku titip anak-anak ya? Titip Ibu. Mas tidak boleh keluar rumah sampai kasus ini berakhir."

Kemudian Mega pun melambaikan tangannya. Setelah itu sepi. Mega pergi dengan pesan terakhirnya.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search