Edit Kadila, S.Pd

Saya bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata. Tapi saya ingin merangkai kata dalam hidup saya agar saya bisa lebih banyak berarti buat orang lain dengan ...

Selengkapnya
Pertemuanku dengan Musafir

Pertemuanku dengan Musafir

Pagi ini pukul 06.00 aku sudah bersiap-siap berangkat untuk mengikuti kegiatan SARASEHAN LITERASI SEKOLAH, yang diadakan di Perpustakaan Nasional RI. Mobil angkot yang membawaku, melaju menyusuri jalan yang masih sepi. Kali ini seperti biasanya aku akan berhenti di Ciawi. Karena mobil bus yang biasa membawaku ngetem di situ.

Hanya dalam waktu setengah jam aku sampai di Ciawi. Aku berlari kecil menghampiri halte bus.. Tapi tak kutemukan bus jurusan Tanah Abangnya. Aku coba bertanya kepada kondektur bus jurusan yang ke Grogol. Katanya bus jurusan itu sudah berangkat beberapa menit yang lalu. Dan bus jurusan yang sama akan datang sekitar satu jam an lagi. Waduuh.. Lama dong pikirku.

Ketika akan naik bus jurusan Grogol, tiba-tiba datanglah bus jurusan Tanah Abang. Alhamdulillah rezeki guru sholehah. Aku pun langsung ambil posisi kursi paling depan dekat jendela. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada perempuan tua yang sedang berjalan. Ya Allah.. Itu musafir yang selama ini aku cari. Aku langsung meminta izin supir untuk turun sebentar. Supir itu mengizinkanku, karena dia akan ngetem dulu menunggu penumpang lainnya.

Aku turun dan langsung menemui perempuan tua itu. Aku cium tangannya dan aku peluk dengan penuh kerinduan. Dia membalas pelukanku dengan erat.

"Ya Allah.. Mak damang, tos lami teu ka pendak. Emak jarang ka Cisarua nyak. Abdi sono ka Emak".

"Alhamdulillah Neng damang. Emak jarang ka pasar Cisarua. Neng bade kamana?".

"Abdi bade ka Jakarta. Doaken nya Mak. Sing salamet".

"Muhun. Ku emak didoakeun sing salamet".

Aku pun berpamitan padanya. Kupeluk lagi tubuhnya yang kurus dan bungkuk itu. Tak lupa aku sisipkan uang di tangannya. Aku beranjak pergi dan naik bis. Dari jendela aku perhatikan perempuan tua itu. Kasihan sekali dia. Dengan terbungkuk-bungkuk dia berjalan sambil meminta belas kasih orang lain.

Aku mengenal perempuan itu sudah lama sekali. Sekitar tahun 2000 an. Ketika itu aku masih berjualan di pasar Cisarua. Aku sempat mengobrol dengannya, kalau dia sebatang kara dan tinggal di Ciawi. Setiap bertemu denganku pasti dia akan selalu memelukku. Seperti nenek ke cucu nya. Aku jadi terharu dengan perlakuannya itu.

Ohh iya ada satu lagi cerita tentang musafir. Dua hari sebelumnya juga aku bertemu dengan seorang bapak setengah baya, kakinya buntung dan menggunakan tongkat sebagai penopang tubuhnya. Bapak ini memiliki tiga orang anak dan seorang istri. Aku langsung menghampiri dan menyapanya.

"Bapak damang. Ntos lami nyak Pak teu kapendak"

"Ehh teteh. Damang alhamdulillah. Muhun ntos lami nyak. Teteh dimana ayeuna. Ntos teu di pasar nyak".

"Nyak bapak. Abdi mah tos teu di pasar. Ayeuna mah ngawulang".

"Alhamdulillah syukur atuh nya teh. Teteh bade kamana atuh".

"Bade uwih Pak. Hapunten atuh Pak bade pamit".

"Nyak mangga teh, hati-hati".

Aku pun berpisah dengan bapak tua itu. Tak lupa aku sisipkan uang di tangannya.

Alhamdulillah itulah cerita pertemuanku dengan musafir. Semuanya buat aku suatu keberkahan bisa mengenal mereka. Aku bersyukur karen masih punya waktu untuk bisa berbagi dengan mereka. Barakallah..

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali