Edit Kadila, S.Pd

Saya bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata. Tapi saya ingin merangkai kata dalam hidup saya agar saya bisa lebih banyak berarti buat orang lain dengan ...

Selengkapnya

Mendidik dengan Jiwa

Sambil menunggu suara adzan berkumandang saya memgambil handphone. Waah banyak sekali chattingan yang masuk. Soalnya jam 21.00 wib saya sudah bercengkrama dengan kasur empuk dan selimut hangat. Hujan deras tiada hentinya menumpahkan air dari atas langit. Hingga membuat saya terlelap dalam mimpi indah.

Di grup MGMP ternyata ada diskusi yang seru sekali. Didalamnya membahas tentang sosok Guru Budi yang tewas di tangan siswanya sendiri. Di dalam grup MGMP kami ada Pa Kadis nya.yaiu Bapak TB. Luthfie Syam. Saya membaca tulisan Pa Kadis yang menurut saya sangat luar biasa sekali. Beliau mengatakan, " Mati/maut/tewas apapun namamya dan "caranya" itu adalah kehendak Allah. Mungkin dengan cara begitu Allah akan mengangkat derajat Pa Budi Cahyono. Pa Budi sudah dengan ikhas mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan. Kita sebagai guru jangan terbelenggu dengan amarah. Pupuskan rasa amarah. Saya khawatir anak-anak akan kering dari sentuhan "jiwa" para pendidik. Jangan biarkan hal ini terjadi. Sudah banyak anak-anak dengan sebab dan alasan yang macam dari rumah dan lingkungannya. Apakah kita sebagai pendidik akan membiarkan mereka terus dahaga?".

Ssya jadi termenung. Betul sekali apa yang beliau katakan. Guru itu mendidik harus dengan jiwa. Jiwa yang penuh dengan kasih sayang. Setiap guru harus tahu kelebihan dan kekurangan siswanya. Galilah setiap potensi yang ada dalam diri siswa. Dengan pendekatan kita bisa menggali apa yang mereka inginkan. Jangan pernah memaksakan satu keinginan kepada siswanya. Semuanya harus dilakukan dengan "jiwa".

Ini tantangan buat kita sebagai guru. Guru itu bukan hanya sekedar mentransfer ilmu saja tapi juga sebagai pendidik. Disaat kita menjadi seorang guru kita juga dituntut untuk menjadi orang tua mereka di sekolah. Jangan biarkan mereka berjalan tanpa bimbingan kita. Semoga kita selalu ikhlas dan selalu diberi kesehatan untuk terus menjadi guru yang mendidik dengan jiwa.

Perjalanan menuju dinas

05022018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Jujur, merinding saya baca tulisan pak Kadis tadi malam bu.

05 Feb
Balas

Iya Bu..sama

05 Feb

Betul bu... Mendidik itu harus dengan hati dan dari hati. Sentuhlah mereka dengan hati. Karena Allah memberikan kita masalah pasti ada solusinya.

05 Feb
Balas

Iya betul itu Bu..

05 Feb

setuju

05 Feb
Balas

Terimakasih Bu

06 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali