Edit Kadila, S.Pd

Saya bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata. Tapi saya ingin merangkai kata dalam hidup saya agar saya bisa lebih banyak berarti buat orang lain dengan ...

Selengkapnya

Kabut di Wajah Mega

Mobil ambulance yang membawa Mega akhirnya tiba di rumah sakit. Para suster langsung sigap membawa Mega ke ruang IGD. Bunda mengikuti dari belakang. Mulutnya tak berhenti memanggil nama Mega sambil menangis. Dokter jaga langsung menangani Mega.

Bunda berdiri di depan pintu IGD yang tertutup. Dirinya sampai lupa kalau harus menghubungi suaminya.

"Assalaamualaikum Ayah. Ayah cepat ke rumah sakit. Mega.. Ayah. Mega".

"Mega kenapa Bunda, kenapa? "

"Mega berusaha bunuh diri Ayah. Dia memotong urat nadi tangannya".

"Apa?. Astagfirullah kok bisa Bunda".

"Sudahlah Ayah. Nanti saja ceritanya. Ayah cepat ke rumah sakit".

"Baiklah. Ayah segera berangkat".

Tak berapa lama Ayah pun tiba. Dokter yang memeriksa Mega keluar. Bunda dan Ayah segera menghampiri dokter.

"Dokter bagaimana kondisi anak kami. Apakah anak kami baik-baik saja?, tanya Ayah.

"Jangan khawatir, anak Bapak baik-baik saja. Hanya jiwanya yang parah. Silahkan kalau Bapak dan Ibu mau melihat".

Ayah dan Bunda segera memasuki ruangan IGD. Terlihat buah hatinya terdiam dengan jarum infus ditangannya. Pikirannya menerawang jauh, kosong. Tak ada lagi ceria di wajahnya. Mega begitu sangat terluka. Luka karena kematian kekasihnya.

"Mega sayang, bagaimana kabarmu Nak". Sapa Bunda sambil memeluk dan menciumnya.

Mega tak menjawabnya. Hanya air mata yang mengalir di pipinya. Bunda mengusap air mata di pipi putrinya. Dan memeluk putri tunggalnya itu.

"Menangislah sayang bila itu bisa meringankan beban di hatimu. Bunda tahu ini sangat berat bagimu. Kamu harus ikhlas sayang. Kasihan Mas Doni, jiwanya tidak akan tenang di alam sana".

Perkataan Bunda dan pelukan hangatnya menentramkan jiwa Mega yang sedang terluka. Ayahnya pun menghampiri dan memeluk serta membelai rambutnya. Sambil berkata, "Kamu harus kuat sayang. Yang ikhlas dan sabar".

Tiba-tiba seseorang masuk. Dug. Jantung Mega seakan berhenti. (bersambung).

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ada apa selanjutnya? Hebat Bu, lanjut ceritanya!

27 Sep
Balas

Waddduuhhh...bucan, jantung saya juga "dug". Siapa ya yang datang ? Lanjuuuttt...bucan. Ditunggu sambungannya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

27 Sep
Balas

Jadi penasaran ikut mak duk... Sambungannya ditunggu.

27 Sep
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali