Edit Kadila, S.Pd

Saya bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata. Tapi saya ingin merangkai kata dalam hidup saya agar saya bisa lebih banyak berarti buat orang lain dengan ...

Selengkapnya
Jagalah Amanah

Jagalah Amanah

Aku merinding ketika mendengar berita kebakaran yang menelan korban anak-anak batita. Mereka yang masih suci dan mungil harus meregang nyawa dalam lautan api yang tak sengaja mereka buat sendiri. Berita itu begitu viralnya, sehingga menimbulkan berbagai cerita tentang kelengahan orang tuanya. Ada yang mengatakan kalau ibunya ke pasar dan ada juga kalau ibunya sedang mandi.

Siang ini secara tak sengaja di angkot aku mendengar cerita lagi tentang anak-anak tak berdosa itu. Rupanya mereka adalah bertetangga dekat dengan yg dapat musibah. Mereka bercerita bahwa anak-anak itu saudara sepupuan. Mereka bernama Rani, Putri dan Lintang.

Aku yang kepo ikutan nimbrung dan bertanya kok bisa hal itu terjadi, kemana ibunya. Ternyata dari cerita yang aku dapatkan siang ini, dua anak diantaranya adalah korban perceraian dari orang tuanya. Sehingga mengakibatkan si Ibu kurang memperhatikan anak-anaknya. Sungguh malang nasib anak-anak itu.

Lima menit sebelumnya, ketika bermain di lapangan tetangga itu melihat anak-anak itu bermain api dengan korek apinya. Dan sempat melarang dan menyuruhnya pulang. Mereka pun pulang dan tanpa sepengetahuan ibunya mereka melanjutkan bermain korek api di atas loteng rumahnya dan mengunci diri di kamar. Saat itu ibu anak yang satunya lagi berada di kamar mandi. Dua ibunya lagi asyik di warung sedang ngerumpi.

Kebakaran pun terjadilah. Anak tetangga sebelah berteriak karena melihat asap yang semakin tebal. Si ibu anak-anak yang ngerumpi terkejut dan berlari ke arah rumah yang terbakar itu. Sedangkan si ibu yang di kamar mandi kebingungan dengan ramainya orang di luar. Ketika mereka berlari ke kamar atas mereka tak bisa membuka pintu, karena terkunci dari dalam. Tak terdengar suara jeritan anak-anak di dalam. Yang terdengar hanya suara gemeretak seperti petasan. Ya Allah.. Aku tak bisa bayangkan bagaimana anak-anak itu meregang nyawa karena kesakitan.

Ketika api padam, anak-anak mungil itu sudah terbujur kaku dengan tubuh hangus. Innalilahi wainna ilaihi rojiun. Mereka kini tertidur dalam dekapan Illahi. Mereka akan menjadi penghuni syurganya Allah. Aamiin Ya Allah Ya Robbal Alamin.

Jerita dan tangis penyesalan sudah tak berarti. Kini mereka hanya bisa menatap gundukan tanah merah saja. Semoga ini jadi pelajaran untuk kita yang masih hidup. Bahwa pada saat Allah menitipkan amanahnya, kita harus menjaga, merawat dan mendidiknya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Itu poto anaknya?

14 Sep
Balas

Iy Bu..

15 Sep

Masya Allah! Mudah-mudahan kita bisa lebih berhati-hati dalam mengemban amanah ini.

14 Sep
Balas

Betul sekali itu Pak

15 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali